
BY YIYIN N HEART
Mata Hensyah tak seperti biasanya. Tatapannya menguliti perasaanku. Apa sebenarnya yang tengah kurasakan? Saat-saat Hensyah mulai mendekap tubuhku. Aku sengaja membiarkan begitu saja.... Pelukan yang amat hangat, menggelitik, membuat darahku seketika memanas.
"Shelma....," bisik Hensyah kemudian. Suaranya terasa lembut dan sejut. Tangannya yang halus mulai mengguyurku dengan sejuta kesegaran birahi. Aku mulai merasakan detak jantungku yang tak menentu. Hingga kemudian aku menatapnya dengan sebuah tatapan meronta.... Hensyah sepertinya mengerti. Sekilass ia memagut bibirku. Melumatnya. Auuuuh....! Sebuah kehangatan ciuman luar biasa kurasakan dari bibir Hensyah yang lembut......
Perlahan aku mulai membenamkan tubuhku ke dalam kehangatannya..... Hensyah tak tinggal diam. Ia mengerti setiap titik arus yang kurasakan. Jari-jarinya merayap menyentuh sessuatu yang mengencang di daadaku. Aihhhh.... Sebuah jentikan lembut namun amat pasti menggerayangi payu daraku.... Aku mulai perlahan mabuk oleh arus birahi..... Tanpa sadar aku menyodorkan puting payu daraku itu ke bibirnya. Hensyah mengisapnya..... Isapan yang amat lembut.... membuat seluruh jiwa dan rassaku melayang jauh seketika.....
"Hensy......," napasku kurasa mulai tak karuan... Hensyah terus bersemangat untuk mengisap payu daraku......... Sementara aku mulai merasakan sessuatu yang menghangat.... Mengencang.... Meresah-gelisah di bagian bawah sana......
"Hensy......," bibirku gemetar...... Ada sesuatu yang seakan ingin diledakkan..... Ingin diledakkan dengan amat dahsyat............ Semakin ledakan itu meronta..... Merejam jiwa dan seluruh tubuhku............. "Hensy........," bibirku begitu bergetar.....
"Shelma....," tiba-tiba kudengar suara Mas Darma samar menyentuh gendang telingaku..... Seketika aku bagai terhempas..... Hensyah seakan lenyap begitu saja dari sisiku.....
"Hensyah......," aku menangis saat kusaksikan tubuh Hensyah menghilang.
"Shelma, kau kenapa?" Mas Darma terkejut menyaksikan aku menangis senggukan. Aku masih tetap menangis dengan tangisan yang amat sedih, seakan tengah merasakan hilangnya sesuatu yang berarti dalam hidupku.
"Shelma...!" sampai akhirnya aku merasakan tangan Mas Darma membangunkanku. Aku membuka mataku perlahan. Mengumpulkan kembali setiap kesadaran dan ingatanku. Kutatap sekeliling kamarku. Kutatap Darma.....
"Kau kenapa?" Mas Darma tampak menatapku dengan pandangan amat penasaran. Aku menggeleng seakan tak mengerti apa yang dimaksud Mas Darma....
"Ada apa denganku, Mas Darma?" tanyaku keheranan. Seraya berusaha mengumpulkan ingatan tentang mimpiku barusan.
"Tadi kamu menangis seperti sedih sekali..... Aku takut kamu kenapa-kenapa.... Makanya aku membangunkanmu...." jelas Mas Darma.
"Aku menangis?" mataku menatap jam dinding. Waktu sudah beranjak menuju pagi. Tak lama kemudian kudengar suara adzzan Shubuh memanggil untuk sholat. "Astagfirullah al adziimm.....," aku buru-buru istigfar.
"Shelma, kau belum menjelaskan apa-apa padaku....," ucap Mas Darma tampak dua bola matanya berusaha meneliti ekspresiku.

"Aku tidak bisa mengingat lagi mimpiku, Mas...," kilahku seraya menahan air liurku sendiri.
"Ohhhh....," Mas Darma tampak tak mendesak lagi. Kami akhirnya mengambil air wudlu dan sholat shubuh berjamaah. Selesai sholat, aku langsung mencium tangan suamiku, seraya dalam hati memohon maaf..... atas semalam aku baru saja menikmati zinah dalam mimpiku....!*


Tidak ada komentar:
Posting Komentar